Membedah Defining Success… The 1st Lesson

Berikut ini adalah pelajaran pertama yang bisa aku ekstrak dari pidato Pak Subroto Bagchi yang berjudul “Defining Success”.

Pelajaran pertama ada dalam 2 kalimat berikut.

To me, the lesson was significant – you treat small people with more respect than how you treat big people. It is more important to respect your subordinates than your superiors.

Yang berarti:

“Bagi saya, pelajaran itu sangatlah penting – anda memperlakukan orang-orang kecil dengan respek yang justru lebih besar dari pada anda memperlakukan orang-orang yang besar (kecil dan besar di sini berarti kedudukan, bukan ukuran badan). Adalah lebih penting untuk menghormati bawahan-bawahan anda dari pada atasan-atasan anda. “

Dalam pidato beliau, beliau menceritakan di mana sang ayah mengajarkan pada beliau untuk memanggil sopir ayahnya dengan panggilan “dada” yang berarti paman, diikutin dengan nama si sopir.

Pelajaran yang sama beliau praktekan pada kedua anak perempuannya. Beliau bangga pada kedua anaknya karena kedua anak beliau dapat menghidupi pelajaran ini sampai mereka dewasa.

Di dunia serba kompetitif sekarang, memang sebuah tantangan yang besar sekali bagi kita semua untuk dapat mempraktekan pelajaran ini. Justru poin inilah yang ingin ditekankan oleh Pak Bagchi.

Dalam lingkungan kantor misalnya, aku dapat melihat trend yang umum di mana para atasan justru sibuk melayani atasan-atasan mereka. Sangking sibuknya, mereka seakan menelantarkan bawahan-bawahan mereka. Bukan hanya itu, si atasan pun terkesan memperlakukan bawahan hanya sebagai instrumen mereka, dalam mencapai tujuan-tujuan yang sering kali bersifat pribadi. Ironis bukan??

Aku berharap ini juga dapat menjadi tantangan yang unik bagi para pembaca sekalian, yang mungkin sudah memiliki bawahan. Bagi yang masi di bawah, anda juga bisa mempraktekan pelajaran ini di lingkungan yang lain, misalnya dalam keluarga anda memperlakukan adik anda dengan respek. Semoga berguna…!

2 Balasan ke Membedah Defining Success… The 1st Lesson

  1. aroengbinang mengatakan:

    betapa mudahnya dan seringnya bos terbius dengan sihir kekuasaan sehingga dengan bengis ia menekan ke bawah dan dengan takzim menjilat ke atas.

    tidak mudah menjadi bos, sama tidak mudahnya menjadi bawahan. keduanya perlu belajar kebajikannya masing-masing; hanya demikian akan tercipta hubungan yang sehat diantara keduanya. (btw, berminat mo tukeran link?)

  2. braincellaneous mengatakan:

    OK Mas Aroengbinang! Link anda sudah di-add…Makasih da mampir…πŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: