Cinta dan Api….

Mei 18, 2007

heart of fireLove is a fire – but whether it’s going to warm your heart or burn down your house, you can never tell.” ~ Joan Crawford

Cinta adalah api – tapi apakah api ini akan menghangatkan hatimu atau membakar hancur rumahmu, kamu tidak akan dapat menentukannya.”

By the way, posting hari ini agak menyimpang dari pembahasan tentang “Defining Success” yang sudah menjadi topik utama dari 4 posting terakhir. Hari ini, mari kita bahas tentang CINTAiya, CINTA….you know, it’s Friday night….malam indah (selain malam minggu) untuk merenung sejenak tentang CINTA.

Kata-kata Joan Crawford adalah benar adanya. Beliau meminjam arti dan kelakuan api untuk menjelaskan sesuatu, yang aku yakin adalah rasa yang abstrak hampir bagi setiap orang.

Iya, CINTA itu indah, CINTA itu nyaman, CINTA itu hangat….bak api kecil yang menghangatkan hati kita. Seorang cowo/ cewe rela kok untuk menempuh ribuan kilometer demi CINTA-nya. Walaupun dijalan bertemu dengan cuaca dingin atau panas, kalau ada CINTA di hati, tidak akan masalah bagi dia. CINTA akan memberi kenyamanan di cuaca panas, dan CINTA pula yang akan menghangatkan di kala cuaca dingin. Ajaib memang rasa yang satu ini….bak bensin bagi mesin mobil….tanpa bensin, mesin mobil tidak ada bertenaga untuk memutar roda…Tanpa CINTA, hati akan terasa hampa….ada sesuatu yang kurang….kita tidak tahu mau beranjak kemana. Aneh yah??

Nah, skarang jadi ingat pepatah dari bibinya Spiderman

Great power comes with great responsibility – dengan kekuasaan yang besar, datanglah tanggung jawab yang tidak kalah besar.

Kalau sudah ada CINTA di hati kita, kita juga dituntut untuk secara bertanggung jawab mengelola dan mengontrol CINTA.

Pernah sakit hati? Heartbreak? Kalau pernah mengalami, kita tahu betapa tidak nyamannya rasa itu, betapa hati ini panas dingin tidak menentu. Kalau ditilik lagi, semua perasaan yang tidak nyaman ini tidak perlu kita alami kalau kita memilih untuk tidak memiliki CINTA dalam hati kita, iya bukan? Banyak orang pun jadi takut menCINTAi karena takut sakit hati.

Kalau orang tahu betapa tidak nyamannya kalau sakit hati karena CINTA, kenapa orang-orang masi tetap memilih CINTA? Yah….skali lagi, memang aneh tapi beginilah kenyataannya…

CINTA, bak api, bisa jadi penghangat hati atau pembakar lebur rumah kita. Apapun CINTA bagi kita saat ini skarang, terimalah CINTA dengan sepenuh hati. Manusia adalah makhluk Tuhan yang pada dasarnya butuh mencintai dan dicintai….sepanjang hidupnya.

Well…it’s Friday night…malam yang cocok untuk merayakan arti CINTA bagi kita masing-masing….renungkanlah…nikmatilah hangatnya….terimalah secara tulus panas atau dinginnya….karena setelah kita mengalami itu semua, bukankah kita akan makin mengenal CINTA…??


Bedah “Defining Success” – The 3rd Lesson….

Mei 16, 2007

Berikut adalah pelajaran ketiga dari sepuluh pelajaran penting yang didapat dari pidato penuh makna Pak Subroto Bagchi, Chief Operating Officer dari MindTree Consulting India. Pidato selengkapnya dapat dibaca di sini.

OK, pelajaran ketiga berikut ini beliau dapatkan dari sang ibu.

“I have to create a bloom in a desert and whenever I am given a new place, I must leave it more beautiful than what I had inherited”. That was my first lesson in success. It is not about what you create for yourself, it is what you leave behind that defines success.

Kalau diartikan:

“Saya harus membuat bunga mekar di gurun dan dimanapun saya diberikan tempat yang baru, saya mesti meninggalkannya dengan keadaan yang lebih cantik dari apa yang saya dapatkan pertama kali.”. Itu adalah pelajaran pertama saya tentang kesuksesan. Yang penting bukan apa yang anda ciptakan untuk anda sendiri, tetapi apa yang anda tinggalkanlah yang mendefinisikan kesuksesan.

Baca entri selengkapnya »


Membedah Defining Success… The 2nd Lesson

Mei 14, 2007

Postingan hari ini masih membahas pidato yang penuh makna dari Pak Subroto Bagchi, seorang Chief Operating Officer dari MindTree Consulting, India, tentang Mendefinisikan Kesuksesan. Pidato selengkapnya dapat dibaca di sini. Kali ini kita beranjak ke pelajaran kedua yang bisa disarikan dari pidato beliau.

Tiga kalimat berikut mengandung pelajaran kedua yang beliau dapatkan dari sang ayah.

“You should leave your newspaper and your toilet, the way you expect to find it”. That lesson was about showing consideration to others. Business begins and ends with that simple precept.

Yang artinya:

“Anda harus meninggalkan koran (setelah anda membacanya) dan toilet (setelah anda menggunakannya) dengan keadaan yang sama seperti yang anda inginkan ketika anda akan menggunakannya.” Pelajaran ini menekanan bagi kita untuk memberi perhatian terhadap orang di sekitar kita. Bisnis dimulai dan diakhiri dengan prinsip yang sederhana tersebut.

Baca entri selengkapnya »


Membedah Defining Success… The 1st Lesson

Mei 13, 2007

Berikut ini adalah pelajaran pertama yang bisa aku ekstrak dari pidato Pak Subroto Bagchi yang berjudul “Defining Success”.

Pelajaran pertama ada dalam 2 kalimat berikut.

To me, the lesson was significant – you treat small people with more respect than how you treat big people. It is more important to respect your subordinates than your superiors.

Yang berarti:

“Bagi saya, pelajaran itu sangatlah penting – anda memperlakukan orang-orang kecil dengan respek yang justru lebih besar dari pada anda memperlakukan orang-orang yang besar (kecil dan besar di sini berarti kedudukan, bukan ukuran badan). Adalah lebih penting untuk menghormati bawahan-bawahan anda dari pada atasan-atasan anda. “

Dalam pidato beliau, beliau menceritakan di mana sang ayah mengajarkan pada beliau untuk memanggil sopir ayahnya dengan panggilan “dada” yang berarti paman, diikutin dengan nama si sopir.

Pelajaran yang sama beliau praktekan pada kedua anak perempuannya. Beliau bangga pada kedua anaknya karena kedua anak beliau dapat menghidupi pelajaran ini sampai mereka dewasa.

Baca entri selengkapnya »


“Mendefinisikan Kesuksesan” Oleh Subroto Bagchi

Mei 13, 2007

Berikut adalah pidato penyambutan yang sangat menyentuh hati, dibawakan oleh Chief Operating Officer dari MindTree Consulting, Subroto Bagchi, pada tanggal 2 Juli 2004, dihadapan kelas yang masuk tahun 2004 dari Indian Institute of Management, Bangalore, India.

Pidato di bawah ini masih dalam bahasa Inggris. Pada postingan berikutnya, aku akan ringkas poin-poin penting tentang definisi Kesuksesan, menurut beliau.

-Defining Success-

“I was the last child of a small-time government servant, in a family of five brothers. My earliest memory of my father is as that of a District Employment Officer in Koraput, Orissa. It was and remains as back of beyond as you can imagine. There was no electricity; no primary school nearby and water did not flow out of a tap. As a result, I did not go to school until the age of eight; I was home-schooled.

My father used to get transferred every year. The family belongings fit into the back of a jeep – so the family moved from place to place and, without any trouble, my Mother would set up an establishment and get us going. Raised by a widow who had come as a refugee from the then East Bengal, she was a matriculate when she married my father.

My parents set the foundation of my life and the value system which makes me what I am today and largely defines what success means to me today.

As District Employment Officer, my father was given a jeep by the government. There was no garage in the Office, so the jeep was parked in our house. My father refused to use it to commute to the office. He told us that the jeep is an expensive resource given by the government – he reiterated to us that it was not ‘his jeep’ but the government’s jeep. Insisting that he would use it only to tour the interiors, he would walk to his office on normal days. He also made sure that we never sat in the government jeep – we could sit in it only when it was stationary. That was our early childhood lessons in governance – a lesson that corporate managers learn the hard way, some never do.

Baca entri selengkapnya »


Cinta seorang arkeolog…..

Mei 12, 2007

“An archaeologist is the best husband any woman can have: the older she gets, the more interested he is in her.” ~ Agatha Christie

“Seorang arkeolog adalah suami terbaik yang dapat dimiliki setiap wanita: semakin tua si wanita, semakin tertarik si suami terhadapnya.”

Hampir tertawa aku membaca slogan Agatha Christie di atas…terkesan kocak, tapi pesannya dalam….

Si penulis novel, yang mendapat julukan “Queen of Crime”, sepertinya mau menantang kaum adam dalam pemahamannya terhadap kecantikan wanita dalam arti fisik.

Anda tahu, seiring dengan pertambahan umur, akan terjadi pengurangan di daya tarik fisik kita. Ini sebenarnya berlaku pada semua orang, tidak masalah dia cowo atau cewe. Buat cowo: makin tua berarti uban makin bertambah, rambut rontok makin banyak, kulit mengeriput, dsb. Sama juga dengan yang cewe. Tantangan bagi kita semua adalah apa kita sanggup untuk tetap dapat menghargai pasangan kita seiring dengan bertambahnya usia mereka?

Baca entri selengkapnya »


Tiga Hal Penting Untuk Kebahagiaan…

Mei 10, 2007

“Three grand essentials to happiness in this life are something to do, something to love, and something to hope for.” ~ Joseph Addison

“Tiga hal penting untuk kebahagiaan dalam hidup ini adalah sesuatu untuk dilakukan, sesuatu/ seseorang untuk dicintai, dan sesuatu untuk diharapkan.”

 

Menarik juga apa yang dikatakan oleh Joseph Addison, seorang politikus dan penulis dari Inggris, yang hidup di abad ke 17 – 18. Biografi singkat beliau dapat dibaca di sini.

Setelah merenungi quote di atas, muncul pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Apa kita akan benar-benar bahagia kalau kita punya ketiga hal di atas?

2. Kalau kita cuma punya maksimum dua, dari tiga hal di atas, apa kita akan tidak bahagia?

Menurut aku, jawaban dari pertanyaan 1 dan 2 di atas adalah IYA dan IYA/ TIDAK, secara berurutan. IYA, karena kalau kita punya sesuatu yang bisa kita lakukan, cintai dan harapkan, kita akan mengalami kebahagiaan dalam hidup. IYA/ TIDAK, karena mungkin kita bisa hidup bahagia kalau kita sudah punya minimal 2 hal di atas, tapi aku yakin kebahagiaan itu belum lengkap.

Kalau kebebasan untuk melakukan sesuatu diambil dari diri kita, tentu kita akan merasa tidak nyaman. Kalau kebebasan untuk mencintai sesuatu/ seseorang diambil, tentu kita juga akan merasa tidak nyaman. Demikian pula jika kebebasan untuk mengharapkan sesuatu diambil.

Ketiga hal di atas benar-benar refleksi murni dari naluri kita sebagai manusia dalam menjalani hidup ini. Kita menjalani hidup dengan beraktivitas, bekerja, melakukan rutinitas sehari-hari. Kita juga menjalani hidup dengan bersosialisasi, dari mana kita dapat menumbuhkan rasa cinta, rasa untuk memiliki, rasa untuk dimiliki. Dan ahirnya, kita menjalani hidup dengan penuh pengharapan, pengharapan kalau besok, hidup kita akan lebih baik lagi, kalau minggu depan kita akan bertemu seseorang yang bisa kita cintai, kalau bulan depan kita akan bertemu seseorang yang mencintai kita, kalau taun depan…, kalau 10 taun kemudian…kalau….kalau…kalau…dan kalau…IYA, kenyataanya, semua “kalau” atau “if” adalah sumber pengharapan dan inspirasi kita sehari-hari. Betapa suramnya hidup kita tanpa semua “kalau” di pikiran kita. Coba anda bayangkan…


It’s not what you say….

Mei 9, 2007

“It’s not what you say, it’s what people hear.” Dr. Frank Luntz

“Yang penting adalah bukan apa yang anda katakan, tetapi apa yang orang dengar.”

Slogan di atas datang dari Dr. Frank Luntz, seorang konsultan di bidang bisnis dan politik. Beliau juga adalah seorang penyurvey dan penganalisa hasil survey yang terkenal. Beliau adalah penulis buku berjudul Words That Work. Buku ini menekankan aspek-aspek di mana kata-kata dapat digunakan untuk mempengaruhi dan memotivasi secara efektif.

Unik memang apa yang dikatakan beliau di atas, tetapi itu benar adanya. Sering kali kita terlalu fokus dengan pesan yang kita katakan sehingga kita melupakan kalau pesan yang kita katakan belum tentu menjadi pesan yang didengar oleh si pendengar.

Menurut beliau, kita boleh-boleh saja percaya bahwa kita memiliki pesan/ informasi yang terbaik untuk orang lain. Tetapi, pesan terbaik ini belum tentu menjadi pesan yang terbaik, ataupun berguna, bagi si pendengar. Yang menjadi faktor penentu di sini adalah kata-kata yang kita gunakan dalam menyampaikan pesan kita.

Si pendengar akan selalu mengartikan apa yang mereka dengar melalui filter emosi, filter pre-konsepsi, filter prejudis, dan filter prinsip-prinsip yang sudah ada pada diri si pendengar sejak kecil. Maka dari itu, kunci dari proses komunikasi yang sukses, dimana informasi yang diterima sama dengan informasi yang dikirim, adalah bagi kita untuk bisa berpikir dan beremosi seakan-akan kita adalah si pendengar sendiri. Kita mesti memindahkan fokus kita ke domain si pendengar dan menyesuaikan kata-kata yang kita gunakan agar si pendengar dapat menerima pesan itu dengan benar. Penting sekali bagi kita untuk dapat mengerti bagaimana si pendengar menginterpretasikan kata-kata yang kita sampaikan. Tentu saja, konsep ini berlaku untuk bahasa tulis dan juga verbal.

Saat ini, kemampuan kita untuk berkomunikasi secara efektif adalah sebuah soft-skills yang amat penting. Sering kali, kesuksesan kita dalam menaiki tangga karir atau menjalani hidup ditentukan oleh skil yang satu ini. Dari kata-kata yang digunakan oleh seseorang, kita dapat, kurang lebih, mengukur dan membedakan apakan orang tersebut adalah orang sukses atau tidak.

Contoh sederhana dari konsep ini dapat dibaca di post berjudul Korban SMS: Salah Bahasa, Runyam Jadinya dari blog KataMata. Artikel yang menarik dengan kisah nyata yang kocak. Selamat menikmati..!


Forgiveness will set you free…

Mei 8, 2007

“Forgiveness is the key to action and freedom.” ~ Hannah Arendt

“Memaafkan adalah kunci untuk aksi dan kebebasan.”

Terlintas slogan di atas selagi mengunjungi Cipluk’s Blog, a blog so blue that I think it’s really her favorite color. ^^

Anyway, Hannah Arendt adalah seorang teoritikus bidang politik yang hidup diabad ke-20. Biografi singkat beliau dapat dibaca di sini.

Sungguh, memaafkan itu sering kali mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Memaafkan juga butuh keberanian yang besar. It indeed takes a real courage and a huge heart….
Ironisnya, sering kali kita tidak menyadari bahwa dengan memaafkan, kita melakukan semua itu demi diri kita sendiri. Kalau kita belum memaafkan seseorang/ sesuatu hal, pikiran kita akan terfokus di hal-hal negatif tentang orang/ hal itu saja. Jika pikiran kita terbelenggu, tentu aksi/ perbuatan kita, secara tidak langsung, ikut terbelenggu. Jika perbuatan kita terbelenggu, bukankan kita tidak punya kebebasan??

I’m sure we can all start to practice forgiveness…right there where you are, right now. Mungkin kita bisa mulai berlatih di lingkungan keluarga atau kantor kita. Kita mesti bisa menerima poin-poin berikut dalam hidup kita sehari-hari.

1. Setiap orang pasti akan berbuat kesalahan satu terhadap yang lainnya.

2. Pasti ada alasan kenapa seseorang berbuat kesalahan terhadap yang lain.

3. Kita memaafkan karena kita melakukannya demi diri kita sendiri, bukan demi orang yang kita maafkan.


Rise up….and taste that greatest glory!

Mei 6, 2007

“Our greatest glory is not in never failing, but in rising up every time we fail.” ~ Ralph Waldo Emerson

“Kemenangan terbesar kita adalah bukan karena tidak pernah gagal, tetapi karena kita bangkit kembali setiap kita gagal.”

Ralph Waldo Emerson adalah seorang penyair dan penulis di abad 19. Slogan-slogan beliau benar-benar penuh inspirasi. Just like the above tentang Perseverance atau ketangguhan, semangat pantang menyerah.

Well, hidup memang penuh cobaan, rintangan dan masalah-masalah yang mesti dihadapi. Karena itu, peluang kita untuk mengalami kegagalan adalah 1 (satu), yang artinya kita PASTI akan mengalami kegagalan.

Namun, seperti yang dikatakan Ralph Waldo Emerson, kita mesti bangkit kembali setiap kali kita gagal. Karena hanya dengan bangkit kembali, kita akan benar-benar mengalami kemenangan terbesar dalam hidup kita….

Remember, miracles do happen….to those who never give up!